Nyeneut Di Garut


Garut memang 
betul-betul penuh tradisi ya.. meskipun sudah mulai lapur karena pengaruh modernitas yang dampaknya sangat kuat. Menurut saya Irvan Faza hal tersebut sangat biasa namun jangan dibiasakan.
Tradisi –tradisi yang sudah ada, harus kita pertahankan jika memang baik bagi kita untuk mempererat kekompakan,solidaritas dan kebersamaan. Contohnya saja yang saya akan dalami yaitu Tradisi Nyaneut. Irvan Faza penasaran dengan tradisi ini yang sudah ada sejak lama.

Garut, satu kota banyak cerita. Bukan hanya cerita Cipanas dan Darajatnya saja sebagai cerita wisata air panas. Garut kaya wisata Gurilapsnya atau gunung rimba laut dan pantainya sehingga wajar jika Charli Chaplin menyamakan dengan kota Swiss yang berada di Jawa, Swiss Van Java. Disempurnakan dengan kehadiran cokelat produksi Tama Cokelat yang sudah mendunia. Selain gurilaps, Garut juga menyimpan cerita sejarah baik sejarah kesundaan, keislaman, atau perjuangan.

Di tengah gempuran budaya modern, Garut juga masih menyimpan tradisi yang sama dimiliki oleh negara besar dan maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Denmark, Rusia, Maroko, dan lainnya. Tradisi ini masih dianut oleh sebagian masyarakat di Garut. Mereka menyebut tradisi ini sebagai Nyaneut. Tradisi minum teh hangat bersama di antara para warga.

, adalah salah satu dari ratusan tradisi yang masih dianut oleh masyarakat Jawa Barat. Tradisi minum teh bersama ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun pada masyarakat Cigedug Kabupaten Garut. Nyaneut adalah salah satu tradisi yang masih terus dilakukan oleh masyarakat. Tradisi ini telah menyedot ribuan orang untuk sekedar menyaksikan tradisi minum teh bersama yang dikemas dalam bentuk festival.


Pada tanggal 1 Muharam 1437 atau tepatnya 14 Oktober 2015, penulis mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan Nyaneut. Nyaneut tahun ini berbeda dengan nyaneut sebelumnya, karena diselenggarakan lebih meriah, dikemas dalam bentuk pesta budaya yaitu Nyaneut Festival.

Nyaneut merupakan singkatan dari Nyai Haneut atau Cai Haneut yang artinya air hangat. Adalah bentuk tradisi suguhan air teh hangat kepada tetamu yang datang yang disuguhkan oleh warga masyarakat Cigedug. Tradisi ini sudah ada sejak teh ditanam sejak abad 19 di wilayah Bayongbong dan Cikajang, Cigedug bagian dari Kecamatan Cikajang sebelum terjadi pemekaran menjadi kecamatan tersendiri. Tehnya sendiri dibawa dan ditanam oleh para pengusaha dari Belanda ditanam di kaki Gunung Cikuray.

Nyaneut menjadi tradiri dalam menyambut tahun baru Islam. Namun karena gempuran modernitas, Nyaneut sempat terputus cukup lama. Walaupun telah menjadi bagian dari keseharian warga karena dekat dengan kehidupan Teh. Festival ini menjadi awal kembalinya tradisi Nyaneut pada masyarakat Cigedug untuk terus dilakukan.

Jalannya Acara
Memasuki wilayah Situ Gede Cigedug, pengunjung disambut dengan gapura gugunungan, atau dikenal dengan SIGOTAKA yang sering ditemukan dalam pembukaan atau penutupan wayang golek. Semua panitia dengan mengenakan pakaian asli urang sunda (Pangsi) dan iket kepala turut menyambut kedatangan dan mempersilakan pengunjung untuk memasuki area serta ikut mengikuti acara Nyaneut. Sepanjang jalan menuju area Situ Gede, berjajar obor yang terbuat dari bambu anyaman. Aroma tradisi sungguh terasa bahwa ini merupakan festival budaya.

Acara diawali dengan Pawai Obor bersama yang dilakukan oleh ratusan anak-anak tepat setelah sholat magrib dilaksanakan. Dengan dampingan panitia, mereka mengelilingi jalan Cigedug. Mereka berangkat dari tempat festival dan kembali lagi ke area festival menjelang sholat Isya. Setelah Sholat Isya, festival dibuka dengan Rebana Cigedug dan rampak cangkir dari Teater Jalarea Universitas Garut. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, camat, dan Bupati Garut.

Baru setelah peresmian pembukaan festival oleh Bupati Garut, acara puncak Nyaneut Festival dilaksanakan yaitu ngahaturan cai  kepada warga dan pengunjung pada tempat lesehan yang telah disediakan, dengan meja yang dirancang khusus dari bambu. Alas airnya sendiri menggunakan gelas dan teko yang terbuat dari tembikar. Air teh yang diolah adalah teh yang berasal dari teh wejek, yang diolah secara tradisional oleh masyarakat Cigedug. Sehingga menghasilkan wangi yang khas. Nyaneut disuguhkan bersama panganan tradisional yang dikukus yang mayoritas terdiri dari umbi-umbian; ubi jalar, singkong, ganyong, dan gula merah.


Nah seru kan? Irvan Faza sangat tertarik untuk mencobanya. Tradisi ini biasanya  ditemukan di Negara Jepang,Amerika Serikat,Denmark,Maroko,dan Rusia. Namun kerennya Kabupaten Garut pun punya tradisi yang demikian dengan nama Nyaneut. Garut Kerennn!!!!

source :http://www.abahraka.com/2016/02/nyaneut-tradisi-minum-teh-bersama.html



IRVAN FAZA GARUT
YOUTUBE:
Irvan Faza Garut

INSTAGRAM:

TWITTER:

FACEBOOK:



Komentar